supply side tax policy

SUPPLY SIDE TAX POLICY

Kebijakan supply side adalah kebijakan yang menitikberatkan pada peningkatan sektor penawaran. Dalam menciptakan penawaran terdapat beberapa unsur yang terkandung didalamnya yaitu tenaga kerja, bahan baku, dan biaya. Hal ini berarti semakin banyak penawaran diciptakan maka akan semakin banyak permintaan tenaga kerja. Hal ini akan mengakibatkan tenaga kerja mempunyai penghasilan.

Kebijakan supply-side dapat terdiri dari beberapa bentuk, yang diataranya tidak berkaitan langsung dengan pajak, seperti meningkatkan taraf pendidikan dan pelatihan untuk membuat peningkatan kualitas tenaga kerja, mengurangi pengaruh serikat kerja supaya penetapan tingkat upah lebih fleksibel, menghapus peraturan yang tidak perlu, dan pengurangan tarif pajak. namun, diantara bentuk-bentuk tersebut, yang paling banyak digunakan adalah supply-side yang terkait dengan pajak (supply-side tax policy).

Pengertian supply-side tax policy sendiri adalah kebijakan penurunan pajak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja pasar dengan cara meningkatkan kapasitas ekonomi untuk memproduksi sehingga kurva penawaran naik.

Pengurangan beban pajak yang subtansial secara umum akan menghasilkan dampak yang signifikan terhadap tingkat produktivitas dan pertumbuhan.  Pemangkasan tarif pajak tentunya akan menurunkan  marginal tax rate sehingga memotivasi para tenaga kerja untuk bekerja lebih lama sehingga pendapatan mereka akan meningkat. Peningkatan pendapatan tentunya akan dapat meningkatkan  marginal propensity to saving (MPS) dan peningkatan tabungan serta tentunya akan meningkatkan sumber-sumber pembiayaan untuk investasi. Dari sisi ketenagakerjaan pemangkasan pajak memberikan insentif bagi pekerja bekerja lebih lama. Bagi perusahaan, pertambahan jam kerja tentunya akan menguntungkan khususnya bagi perusahaan yang sedang memacu produksinya. Jika peningkatan produksi terjadi secara massal maka hal tersebut tentunya akan meningkatkan produk nasional. Produk nasional yang meningkat berarti kapasitas ekonomi juga akan mengalami peningkatan, dengan demikian agregat Supply bisa mengalami peningkatan yang signifikan. Kerangka teoristis secara mikro dijelaskan dalam grafik di bawah.

Sumber: www.bi.go.id

Proposisi dasar dari konsepsi supply-side tax policy sebenarnya hampir sama dengan ekonomi neoklasik, termasuk keyakinan (belief) bahwa pajak mempengaruhi perilaku ekonomi dan efek subsitusi pajak sangat penting bagi efisiensi alokasi sumberdaya.[5] Hal baru dari kebijakan ini adalah keyakinan dari beberapa ahli ekonomi perpajakan bahwa pengurangan beban pajak, khususnya penurunan tarif pajak penghasilan, akan menghasilkan dampak yang signifikan terhadap tingkat produktivitas dan pertumbuhan, sebagaimana dikemukan Gandhi (1995)“what new is the conviction of some Supply side economists that a substantial reduction of tax burdens, in general, and the tax rates of income tax, in particular, will have significant effects on the level of output and growth rates”.[6] Secara umum cakupan kebijakan supply-side menekankan pada kebijakan yang dapat meminimalisir  distorsi dalam pasar, yang diakibatkan oleh pengaruh regulasi pemerintah terhadap harga, subsidi dan tingginya pajak penghasilan; dan dorongan kebijakan tadi terhadap investasi dan produksi dengan cara membuat bekerja insentif ekonomi pasar bebas.

Supply side tax policy diterapkan jika kondisi seperti berikut terjadi

  • Menurunnya tingkat produktivitas dan pertumbuhan pasokan produksi

Dalam kondisi pasokan produksi menurun, dibutuhkan tindakan dari pemerintah untuk menstimulus pengusaha menambah kuantitas produksinya. Salah satu yang bisa dilakukan pemerintah adalah menerapkan supply-side tax policy. Meningkatkan penawaran dengan sisi kebijakan pajak yg dikeluarkan oleh pemerintah.

  • Meningkatnya tingkat pengangguran

Salah satu cara mengatasi bertambahnya jumlah pengangguran yaitu dengan memberlakukan supply-side tax policies . Ketika agregat penawaran telah naik maka pengusaha akan terdorong untuk menambah kuantitas produksinya, dengan demikian pengusaha akan membutuhkan banyak tenaga kerja baru untuk mencapai target peningkatan produksinya. 

  • Minimalnya jumlah investor disetiap kegiatan produksi yang terjadi

Sesuai dengan gambar disamping, pada waktu pajak penawaran dikenakan sebesar EC maka fungsi investasi bergeser kebawah dari I menjadi I’ sehingga tercipta keseimbangan baru, yaitu Rate of Return turun sebesar EC menjadi OC dan investasi turun sebesar AB menjadi OA.[7] Penurunan fungsi investasi selaras dengan degradasi jumlah investor yang terjadi. Dalam kondisi demikian maka Supply Side Tax policy diterapkan untuk meningkatkan agregat supply yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kembali fungsi investasi.

  • Terjadinya krisis maupun stagnasi kegiatan perekonomian

Saat Pajak terus menerus diterapkan dengan Budget yang besar terhadap kegiatan perekonomian, menurut Norman dapat mengakibatkan terjadinya krisis maupun stagnasi kegiatan perekonomian[8].  Ketika hal ini terjadi pada kegiatan perekonomian maka Supply Side Tax Policy berperan penting dalam fluktuasi positif kegiatan perekonomian.

  • Menurunnya tabungan masyarakat sebagai sumber investasi

Tabungan merupakan prosentase dari Disposable Income, DI adalah pendapatan setelah dikurangi pajak, sehingga pemajakan akan mengurangi tabungan.(Tursilo,2007) Berkurangnya pendapatan karena supply yang menurun akan membuat rumah tangga menggantikan konsumsi masa depan dengan melakukan konsumsi di saat ini atau dengan kata lain mereka lebih memilih bertahan hidup dengan melakukan konsumsi dibandingkan menabung.

  • Terjadinya Inflasi

Inflasi mengakibatkan kenaikan harga barang secara terus menerus. Ketika kondisi ini terjadi maka Supply Side tax Policy merupakan kebijakan yang tepat untuk dimplementasikan, karena menurut grafik 1 ketika supply naik maka harga (Price) akan mengalami penurunan seiring dengan semakin meningkatnya penawaran yang terjadi

 

 

 

 

 

 


[1] Amalia Dini. 2008. Kajian Beasiswa Sebagai Insentif Pajak dalam UpayaMendorong Pembangunan Pendidikan ( Ditinjau dari Supply Side Tax Policy). Skripsi,FISIP UI

[2] Virtual Economy Glosary, “Glosary Q-2” http://www.bized.ac.uk/virtual/economy/library/theory/classical4.htm..

[3] Mikesell. 2003. Fiscal Administration. Suzane Jeans

[5] Rosdiana,Haula.2008. Rekonstruksi Konsepsi Supply-side Tax Policy. Jurnal,FISIP UI

[6] Gandhi, Ved P. 1995.  Supply-Side Tax Policy; Its Relevance to Developing Countries. Washington DC: IMF.

[7] Tursilo,Budi.2007. Analisis Pengaruh Perubahan Tarif Pajak Penghasilan Terhadap Penerimaan Pajak dalam Perspektif Kurva Laffer. Tesis, FISIP UI

[8] Norman Ture, “Supply Side Analysis and Public Policy,” Essays in Supply-Side Economics.Washington, D.C.: Institute for Research on the Economics of Taxation, n.d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s