UN Untuk Negeri

Sejak digulirkan, UN kian menuai kontroversi dan kritik dari khalayak yang seakan memburamkan kontribusinya. Tak lama lagi perhelatan akbar tahunan dunia pendidikan kembali akan digelar. Berbagai macam perbaikan dan perubahan sistem terus dilakukan pemerintah, berharap hasil UN mencapai tingkat maksimal. Namun, jauh panggang dari api, bukan malah perbaikan dan perubahan kearah yang lebih membangun yang didapat, tapi cucuran kritik dan kontroversi dari masyarakat yang mempertanyakan efektifitas UN, serta depresi peserta pasca berakhirnya UN, semakin meningkat. 

Bisa dibilang wajar, jika masyarakat menilai UN kian menuai depresi dan trauma bagi peserta didik. Betapa tidak, gencatan gugatan UN yang dilakukan orang tua peserta didik yang tak lulus, melalui LBH, kian menambah tumpukan map Mahkamah Agung, bukan karena mereka (orang tua) tak menerima kegagalan anaknya, tapi gugatan itu lebih mengarah pada ketimpangan-ketimpangan sosial-politik dalam pelaksanaan UN dan efek depresi dan trauma yang selalu menghantui peserta didik yang tak suskses. Bukti konkritnya, apa yang telah terjadi pada Indah Kusumaningrum (21). Dara alumni SMA PSKD 7 depok ini sempat mengalami depresi dan trauma pasca mendengar bahwa dirinya “ditakdirkan” tidak sukses dalam pergelaran UN 2009 silam.   

Mohammad Nuh (Mendiknas), dalam Koran Jawa Pos, terbitan Senin 18 Februari, Halaman Utama menyatakan, UN 2013 tetap akan dilaksanakn namun dalam bentuk formula baru yang tentunya memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan konsep pelaksanaan UN sebelumnya. Dalam media yang sama, Nuh juga mengatakan bahwa kelulusan peserta didik diserahkan sepenuhnya pada satuan pendidik tempat siswa belejar, dan terdiri dari 20 tipe untuk meminimalisir terjadinya kecurangan . Dalam menentukan kelulusan satuan pendidik harus menjadikan empat hal sebagai indikator lulus atau tidaknya peserta didik. Pertama, siswa telah menyelesaikan seluruh program pendidikan. kedua, totalitas moral dan akhlak. Ketiga, siswa lulus Ujian Sekolah dan yang terakhir, sisiwa lulus Ujian Nasional.

Formula baru yang dirumuskan melalui rapat panitia UN dan Kementrian pendidkan Negara Indonesia, seakan telah menjadi jawaban atas gugatan masyarakat yang mempertanyakan efektifitas UN selama ini, memburamkan wacana negatif UN yang selama ini terdengar riuh ditelinga dan menumbuhkan wacana baru dalam catur jangka pendidikan bangsa, yang tentunya kita harapkan bisa lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s