Revolusi Ketahanan Pangan, Degradasi Kematian

Whether one speaks of human rights or basic human needs, the right to food is the most basic of all. Unless that right is first unfullfilles, the protection of the other human rights becomes a mockery for those who must spend all their energy merely to maintain life itself…” (Presidental Commision on World Hunger,1980) [1]

            Pernyataan presiden yang dikutip di awal tulisan ini, mengakui bahwa manusia tidak dapat mempertahankan hidupnya tanpa adanya pangan. Kebutuhan atas pangan merupakan suatu Hak Asasi Manusia yang paling mendasar. Oleh karena itu, usaha pemenuhan kebutuhan pangan merupakan tanggung jawab pemerintah yang mendasar terhadap rakyatnya. Urgensi ketahanan pangan telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonsia No 7 tahun 1996 tentang pangan (UU Pangan) mendefinisikan ketahanan pangan sebagai suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga. Tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya aman, merata dan terjangkau.

            Tidak hanya UU Pangan no 7 tahun 1996 yang mengatur tentang pangan, diawal tahun 2012 ini badan ketahan pangan mempublikasikan mengenai UU No.18 Tahun 2012 tentang pembentukan kelembagaan pangan yang bertanggung jawab langsung pada presiden, hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya tahan pangan di Indonesia

            Diaturnya ketahanan pangan dalam undang-undang tersebut tidak membuat kebutuhan pangan seluruh masyarakat indonesia yang terdiri dari 234 juta jiwa terpenuhi. Hal tersebut terbukti dari catatan IFPRI (International Food Policy Reasearch Institute) yang menerbitkan GHI (Global Hunger Index) bahwa Indonesia pada 2012 tidak naik kelas dari posisinya di 2011 yang berada pada posisi kelompok negara dengan krisisi pangan serius dengan nilai index 10,0 sampai dengan 19,9 bersama mongolia,philipina dan vientam.[2] Rapor yang buruk terkait ketahanan pangan Indonesia juga dilaporakan oleh FAO yang menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke 2 dengan jumlah penduduk yang mengalami kurang gizi terbanyak di antara negara ASEAN lainnya.

Jumlah Penduduk Kurang Gizi di Dunia[3]

            Hal tragis lainnya yang dialami negara Indonesia sebagai negara agraris adalah produksi makanan domestik yang hanya mampu dipenuhi sekitar 27% kebutuhan pangan dalam negeri. Sementara 70% hingga 73% diperloeh dari bahan impor.[4]

            Masalah-masalah terkait ketahanan pangan yang terjadi di Indonesia menurut FAO bisa terjadi karena tekanan lingkungan dan perubahan iklim yang semakin berat membuat produksi pertanian secara tradisional dan intensif kian menurun produktifitasnya.

            Indonesia harus mulai berpikir bahwa untuk menjadi negara kuat haruslah diawali dengan mengatasi fenomena ancaman kelaparan. Mendegradasi 92 kematian yang diakibatkan oleh krisis pangan dalam bentuk kelaparan dan kurang gizi serta menaikkan peringkat Indonesia dalam GHI (Global Hunger Index)


[2] IFPRI.com/GHI-Indonesia

[3] Sawit, Indonesia dalam pandangan tatanan beras dunia

[4] detik.comImageR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s