How Dialect affects Humans Behave

Bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu di dalamnya, yaitu segala sesuatu mampu termuat dalam lapangan pemahaman manusia. oleh karena itu, memahami bahasa akan memungkinkan untuk memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia. Seorang filosof bahasa, Ludwid Van Wittgenstein, juga menuturkan bahwa batas dunia manusia adalah bahasa mereka (Sumaryono, 1993).

Language is not only an essential tool for communication, but also important for social behavior, as it is through language that the child interacts with the world around. It is essential for the internalization of social codes and for the self regulation of behavior” – Neil Gordon[1]

            Dalam bukunya yang berjudul “Relation Between Language and Behavior”, Gordon menyatakan bahwa bahasa bukan hanya alat penting untuk berkomunikasi, tetapi juga penting bagi perilaku sosial karena urgensi bahasa dalam berinteraksi dengan dunia sekitar. Tidak hanya kosakata bahasa yang mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak, namun cara mengucapkan kosakata (dialek) tersebut juga turut mempengaruhi tingkah laku seseorang. Menurut Gordon, bukan hanya perilaku orang dewasa yang dipengaruhi oleh bahasa yang digunakannya melainkan anak usia dini sebagai subjek pengguna bahasa justru paling mudah dipengaruhi oleh bahasa dan dialek yang mereka gunakan. Hal ini dikarenakan saraf motorik mereka yang lebih sensitif terhadap rangsangan bahasa dan ekspresi yang mereka gunakan ketika berkomunikasi.

            Indonesia adalah Negara yang terkenal akan kemajemukan budayanya, termasuk di dalamnya keragaman bahasa yang berbeda antar satu daerah dengan daerah lainnya. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia memiliki 746 bahasa daerah dengan kosakata dan dialek yang berbeda antar bahasa daerah.[2] Salah satu bahasa daerah yang cukup unik yang ada di Indonesia adalah bahasa daerah Madura. Bahasa Madura merupakan anak cabang dari bahasa Austronesia ranting Malayo-Polinesia sehingga mempunyai kesamaan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia. Bahasa dengan penutur 14 juta orang ini memiliki empat jenis dialektik yang berbeda. Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep adalah dialektik yang banyak digunakan oleh masyarakat di pulau dengan empat kabupaten tersebut. Bahasa Madura sebagai kearifal lokal (local wisdom) berfungsi sebagai material atau bahan yang secara substantif lekat dengan penggunaan bahasa yang tepat sesuai dengan lawan bicaranya. Ada tiga tingkatan bahasa dalam bahasa Madura, yaitu basa alos: enggi-bunten (bahasa tinggi), basa tengah: enggi-enten (bahasa tengah), dan basa kasar: enja’- iyya (bahasa kasar). Penggunaan tingkatan bahasa tersebut perlu diperhatikan dalam berkomunikasi dengan orang lain, terutama dalam penggunaan bahasa tinggi. Sebab nilai tatakrama, rasa santun, dan budi perkerti tercermin dalam penggunaan bahasa tinggi tersebut.  

Berikut penulis paparkan contoh bahasa halus (enggi-bunten) dan enja’ iya dalam kalimat yang biasa digunakan sehari-hari

  • Abdi dalem lastare nedha. (enggi bunten)
  • Engko’ mare ngakan. (enja’ iya)

Jika kita bandingkan pengucapan dua kalimat di atas, meskipun memiliki makna yang sama namun kalimat pertama dengan tingkat bahasa enggi bunten lebih halus dalam pengucapannya. Paduan gestur dan ekspresi mimik sebagai nilai simbolis bahasa dengan kelembutan pengungkapan memberikan nilai etika dan indikator tentang kepribadian si penutur ketika menggunakan bahasa enggi bunten. Penggunaan bahasa Madura tinggi tersebut banyak digunakan di Pondok Pesantren yaitu antara santri dengan ustad atau kyai, santri dengan santri lainnya, antara anak dengan orang tuanya, antara yang usianya muda dengan yang usianya sepuh, maupun untuk sesama sepuhnya tetapi tidak akrab.

Penggunaan bahasa Madura, khususnya enggi bunten ini seharusnya bukan lagi sesuatu yang asing untuk di implementasikan, karena sebenarnya bahasa enggi bunten telah eksis ketika Sumenep masih menganut sistem kerajaan, dimana bahasa dengan tingkat tertinggi ini digunakan sebagai satu-satunya media untuk berkomunikasi dalam pergaulan masyarakat saat itu, khususnya dalam lingkungan istana.[3] Penggunaan bahasa enggi bunten saat itu disertai dengan ekspresi dan gesture tubuh yang mendukung untuk mengekspresikan apa yang ingin disampaikan dengan tetap menjunjung tinggi makna kesopanan dan moral dalam setiap penyampaiannya oleh sang penutur. Hal ini dilakukan untuk memberikan rasa homat atau penghargaan bagi orang lain selaku lawan bicaranya. Alhasil di kala itu sangat sulit menemukan kejadian anak berkata kasar pada orang tuanya, bawahan mencemoh atasan, serta pembangkangan yang muda pada yang lebih tua seperti yang banyak terjadi di era globalisasi ini. Di tengah-tengah kemelut eksistensi   

Dari observasi partisipatoris yang dilakukan oleh penulis di daerah Sumenep, diperoleh hasil pengamatan bahwa seseorang yang menggunakan tata bahasa Madura enggi bunten dalam percakapannya sehari-hari, baik tingkah laku maupun kepribadiannya cenderung lebih sopan serta sangat tenang dan tertata dalam merespon tanggapan orang lain atau dalam mengutarakan pendapat serta dalam menghadapi masalah. Bagi mereka yang menggunakan tingkatan bahasa ini, kedudukan seseorang, umur dan pengaruhnya sangat penting adanya untuk mengetahui bagaimana mereka harus bersikap dan bertutur terhadap orang tersebut. Tidak heran jika di kawasan Sumenep jarang terjadi kekerasan karena kebiasaan mereka dalam dialek bertutur kata dengan sendirinya melekat pada kepribadian mereka yang sangat menghormati orang lain dan tidak suka dengan kekerasan.  Ketika satu bahasa memproduksi satu perilaku tertentu, serta ketika perilaku tersebut diulang-ulang menjadi kebiasaan maka yang tercipta adalah kepribadian. Hal ini dikarenakan bahwa pada mulanya manusia membentuk kebiasaan, tetapi setelah itu kebiasaanlah yang membentuk manusia.

Pengaruh bahasa terhadap perilaku dapat juga terjadi jika bahasa tersebut telah berhasil melalui habituasi dan aspek formal bahasa menuju pikiran manusia itu sendiri. Seorang ahli bahasa bernama Benyamin Whorf pernah mengatakan bahwa selain habituasi dan aspek formal bahasa, salah satu aspek lain yang dominan adalah bahwa bahasa mampu mempengaruhi kategorisasi dalam persepsi manusia yang akan menjadi premis dalam berpikirnya. Dari pikiran tersebut, maka akan mempengaruhi perilaku individu tersebut sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Kazuo Murakami bahwa, “You are what you think, and you are what you feel.” Artinya adalah pemikiran serta perasaan kita akan membentuk kepribadian kita. Memang, manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi bahasa mampu mempermudah perilaku manusia seperti, kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan, dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan seseorang menangani peristiwa yang dihadapinya, bagaimanakah mereka harus bertindak, merespon, dan seterusnya.

Bahasa juga memaksa pandangan konseptual pemakai bahasa karena secara tak langsung manusia mengevaluasi realita berdasarkan bahasa yang manusia miliki (Widhiarso, 2005). Dengan cara seperti inilah bahasa memengaruhi pikiran seseorang kemudian mengarah pada tindakan atau perilaku manusia itu sendiri.  Oleh karena itu, penggunaan bahasa alos (enggi-bunten) memang besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian yang sopan dan berbudi pekerti jika di tuturkan sehari-hari menjadi suatu kebiasaan.

Sayangnya di era globalisasi ini, dimana budaya barat telah menjarah Indonesia dengan cepat, bahasa daerah lambat laun kurang diperhatikan dan krisis kepribadian semakin melanda sejalan dengan kemorosotan penggunaan bahasa daerah sebagai identitas etnis dan bangsa. Masyarakat cenderung mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional menjadi bahasa komplementer bahasa Indonesia dan mensubsitusi bahasa daerah dengan bahasa tersebut. berlandaskan fakta yang ada, sebenarnya  bahasa Internasional yang biasa kita adaptasikan dalam kehidupan sehari-hari tidak lebih baik dari bahasa Indonesia dan bahkan lebih buruk dari bahasa daerah, khususnya bahasa Madura yang memiliki keragaman kosakata maupun dialektika pengucapan yang lebih mampu menciptakan pribadi-pribadi yang sopan sesuai dengan tujuan dari implementasi bahasa daerah tersebut. Dalam upaya mengatasi penurunan minat penggunaan masyarakat terhadap bahasa daerah, pemerintah mengeluarkan undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan, mengingat sangat pentingnya penggunaan bahasa daerah dalam membentuk kepribadian seseorang yang seharusnya bisa menjadi pedoman setiap kepala daerah melestarikan bahasa daerah masing-masing. Namun, degradasi penggunaan bahasa Madura yang tak terbendung lagi oleh masyarakat Madura, khususnya dikalangan remaja dan anak-anak menjadi tugas seorang ibulah sebagai tiang keluarga untuk menciptakan agradasi pengguna bahasa Madura sebagai bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-hari. Kembali mengeksistensikan bahasa ibu kedua di Madura yang keberadaannya tak lagi eksis bagi remaja, orang dewasa atau anak usia dini nampaknya akan menjadi tugas utama Ibu untuk mengembalikan Kepribadian yang mulai luntur tergerus gencarnya globalisasi.

Kembalilah menjadi putra-putri Madura yang bekepribadian sopan namun berani, bertindak lokal namun berpikir global dan bangga berbudaya Madura dengan menggunakan bahasa Madura sebagai media dalam komunikasi sehari-hari.

-Bahasa menunjukkan bangsa-


[1] Neil,Gordon. 2008. Relation Between Language and Behavior. 86-89

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s