Persuasi Demokrasi 9 Juli

entah kenapa setelah melewati pemilihan presiden secara demokratis selama 3 kali baru kali ini tertarik untuk mengamati secara seksama memberikan reaksi atas tindakan yang mereka (capres-cawapres) lakukan, ucapan yang mereka katakan. ditulisan ini saya sebagai warga negara yang hanya tunduk pada konstitusi tidak bermaksud untuk memprovokasi namun hanya ingin meberikan referensi dan sharing pengalaman sadar politik yang saya alami

sejak pemilihan daerah untuk memilih DPR baik di pusat ataupun daerah dihelat, saya sudah mulai mengikuti informasi yang beredar. sayangnya karena kelalaian sebagai negara dan red tape birokrasi indonesia yang tak kunjung teratasi saya belum bisa meilih di umur yang ke 19 karena belum memiliki KTP. Dari informasi yang beredar desas desus Jokowi akan maju sebagai RI 1 sudah mulai terdengar. namun, saat itu saya tidak begitu peduli dengan siapa DPR, siapa calon presidennya nanti. yang saya pedulikan hanyalah siapa yang akan saya pilih 9 juli nanti (masih berharap KTP itu akan segera selesai). pemilihan daerah selesai, quick count dilakukan dan dinyatakan bahwa PDIP memiliki suara terbesar disusul dengan gerindra di posisi kedua. dikala itu saya tidak terlalu menggubris 2 peringkat teratas tersebut yang lebih menarik buat saya adalah mengapa bisa parta golkar yang menjadikan Abu Rizal sebagai maskot masih bisa bertengger di posisi nomor 3? . Golkar adalah partai besar dan mempunyai simpatisan yang banyak harusnya bukan menjadi alasan yang logis mengingat kekacauan yang ditimbulkan oleh partai tersebut tak terhitung jumlahnya, khususnya ketua umumnya.
quick count berjalan koalisipun mulai terbentuk dan jokowi mulai mendeklarasikan dirinya sebagai presiden mewakili PDIP. pengajuan jokowi tidak menarik hati saya untuk memilihnya. saya memutuskan untuk berpihak pada prabowo yang lebih tegas, memperhatikan kesejahteraan, tidak menyukai orang asing, mencintai produk dalam negeri. ketika saya tahu siapa koalisi gerindra dan siapa capresnya saya tetap belum memiliki pikiran jernih dan tetap memilih laskar merah putih. alasan saya tidak memilih jokowi kala itu adalah karena beliau kurang amanah, tidak tegas, diboncengi oleh kepentingan Megawati.
saat ditanya siapa pilihan presidenmu? dengan lugas dan tanpa ragu saya mejawab prabowo tentunya. bahkan saya berdebat dengan teman-teman saya dan mempertahankan argumen saya dengan sejuta alasan.
hingga akhirnya pada suatu waktu selama berhari-hari saya menyaksikan berita yang disajikan oleh TV ONE. semua berita yang disiarkan adalah SAMPAH. mengapa? karena beritanya menganduk black Campaign. harusnya saya semakin yakin untuk memilih Prabowo, namun sebaliknya. berita itu menyadarkan saya bagaimana seharusnya pemimpin yang baik, koalisi yang baik dan media pers yang baik dalam mengedukasi masyarakat. tidak mau hanya menilai dari satu sisi saya menjadi metro tv sebagai pembanding. dalam pemberitannya siaran tv tersebut memang cenderung mengagunkan jokowi. namun, yang perlu digaris bawahi adalah mereka tidak menjelek-jelekkan dan menimbulkan hoax tentang lawan.
saat itulah pilihan saya mulai berubah. tak hanya berhenti sampai disitu, saya semakin tertarik untuk menulusuri siapa yang sebenarnya lebih layak untuk saya dukung meskipun saya sadar saya tidak bisa memberikan suara untuk menentukan presiden yang akan berkuasa di 5 tahun mendatang
selain hanya pemberitaan kubu prabowo yang tidak mencerminkan kubu yang terdukasi dengan baik, koalisi yang prabowo pilih adalah orang-orang yang terlibat dalam kesalahan di masa lalu dan masa kini. sebut saja mafia daging, gas, tambang, dan minyak. sedangkan, Indonesia membutuhkan kelompok yang bisa memberantas korupsi, kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan teknologi, degradasi lahan sawah hutan dan tambang. kalau orang-orang yang duduk dalam pemerintahan dimasa yang akan datang adalah orang-orang yang tersangkut dalam masalah yang telah disebutkan diatas bagaimana caranya cita-cita bangsa untuk sejahtera, dan berdiri di kaki sendiri bisa tercapai?. dengan tegas saya membantah kata-kata saya sendiri saat mengatakan indonesia membutuhkan sosok yang tegas, cinta tanah air, benci asing dan ingin mensejahterakan rakyat seperti Prabowo.
Tegas? beliau memang tegas. namun ketegasan pemimpin yang saya dan bangsa ini butuhkan sekarang bukan ketegasan yang memihak pada kepentingan tertentu. namun, pada kepentingan rakyat
Cinta tanah air? ya beliau memang cinta tanah air. namun cintanya hanyalah pada sumber daya alamnya saja. itu tegas tertuang dalam visi misinya. cinta yang sesungguhnya adalah mencintai, mengolah dan memberdayang Sumber Daya Manusi agar dapat menjaga SUmber Daya Alam yang sebaik-baiknya. selalu mengagungnya SUmber Daya Alam tidak ada bedanya dengan pemikiran orang kolonial kala itu yang hanya ingin mengeruk habis SDA yang kita miliki. memproklamirkan dirinya tidak menyukasi asing? kalau memang tidak suka asing mengapa harus memiliki saham begitu besar di Freeprort? saat malam ini debat capres berlangsung mengapa tidak dengan tegas bahwa anda sebagai calon presiden ke 7 bersedia mengusir Free Port dari negeri ini, membela martabat indonesia di sidang arbitrasi antara Freeport dan Indonesia terkait PP no 2009 tentang smelter?
membaca tulisan seorang jurnalis amerika yang membeberkan verbatim antara dirinya dan prabowo beberapa tahun lalu membuat saya tersontak saat mengetahui bahwa Prabowo adalah anak kesayangan Amerika. dan disaat dia menggunakan Abdurrahman Wahid sebagai iklan yang mendukung dirinya sesungguhnya dalam verbatim yang di beberkan oleh alan tersebut Prabowo menngatakan bahwa presiden ke 4 kala itu bodoh dan cacat.
Terlepas dari hal itu, sesungguhnya saat ini Indonesia khususnya saya sebagai bagian dari Indonesia tidak butuh janji-janji manis tapi kita butuh kepastian karena walaupun suatu yang realistis dan pasti itu tidak menyenangkan namun janji manis yang ditawarkan prabowo hanya akan lebih menyakitkan. Janji sana sini penuh dan terhitung lalu bagaimana cara memenuhi janji pada rakyat dan teman koalisimu itu bisa terpenuhi dalam waktu 5 tahun???
saat malam ini saya menyaksikan debat capres untuk yang terakhir kalinya saya semakin yakin bahwa apa yang dia katakan itu untuk mempersuade rakyat memilihnya hanya wacana belaka. mengapa? karena semua janji dan solusi yang ditawarkan terlalu non sense dan mengada-ada. saya saja yang warga awam tahu bahwa cara yang demikian tidak akan bisa teralisasi. saat ditanyakan bagaimana cara menggunakan impor untuk mengurangi harga daging? dia menjawab dengan santai bahwa kita tidak akan impor sama sekali kita hanya butuh menambah jumlah sapi dalam negeri, memberikan insentif dan memberikan edukasi pada petani. Pak, jika dengan cara demikian bisa diatasi pak mana mungkin setiap tahun bangsa ini memiliki problem yang sama terkait harga daging. sesuatu yang tak kunjung teratasi karena solusi yang ditawarkan itu susah diimplemntasi seperti cara bapak.
kita memang butuh pemimpin yang tegas namun yang lebih kita butuhkan adalah pemimpin yang benar-benar tahu apa yang akan dia lakukan untuk negeri ini. untuk apa tegas kalau dia tidak tahu menahu tengan masalah bangsa dan solusi realistis yang dia tawarkan untuk menatasinya.
jika ada calon lain mungkin saya belum tentu memilih Jokowi tapi saya sudah pasti tidak memilih Prabowo. Masa keemasan Indonesia terlalu pendek untuk dibuang sia-sia dengan kepemimpinan Prabowo dan antek-anteknya.
sebagai pemilih yang baik silahkan pastikan pilihan kalian benar-benar sesuai dengan apa yang kalian butuhkan dan inginkan. dengan tulus saya memohon agar bagi kalian yang memiliki hak untuk memilih jangan membiarkan suara kalian hilang begitu saja. tentukan pilihan dan masa depan bangsa. kalau bukan kita siapa lagi? kalu bukan sekarang kapan lagi? sudah saatnya Indonesia terbebas dari belenggu orang lama. saya titipkan suara saya pada kalian 9 juli mendatang. Indonesia Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s