Tax featuring Outbound

ABSTRACT

Dirjen Pajak Indonesia selaku instansi pemerintah dibidang perpajakan, mencanangkan suatu reformasi perpajakan sebagai media terciptanya Voluntary Tax Compliance. Sosialisasi dalam bentuk iklan dan seminar telah dilakukan pemerintah untuk mendukung terciptanya Tax Compliance. Faktanya, tujuan dari sosialisasi tersebut tidak terealisasikan dengan baik. Hal ini dibuktikan dari tidak terjadinya peningkatan Tax Ratio Indonesia yang signifikan. Salah satu penyebabnya adalah sosialisasi yang tidak tepat sasaran. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan sosialisasi yang tepat baik objek maupun metodenya. Objek utamanya adalah pelajar sebagai Future Tax Payer dan metodenya adalah Outbound yang sesuai dengan jiwa muda pelajar yang menyukai tantangan.

 

Key word: Pajak, Outbound, Tax compliance

 

1.    Pendahuluan

1.1  Latar Belakang

Pajak menurut Undang-Undang Perpajakan pasal 1 (1) adalah kontribusi wajib kepada Negara yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya rakyat. Seiring dengan perkembangannya di kehidupan modern, para ahli dibidang perpajakan membantah pengertian pajak menurut undang-undang khususnya dalam Kongres Pajak sedunia pada bulan September 2005 di Buenos Aires, Argentina, sehingga lahirlah pengertian baru pajak dalam paradigma kontemporer, yaitu “Pajak merupakan wujud kesadaran masyarakat dalam memberikan kontribusi terhadap Negara” [1]. Kalimat tersebut merupakan kalimat yang menyimbolkan bahwa pajak di masa kini harus berdasarkan kesadaran para wajib pajak, bukan semata-mata karena kewajiban belaka atau yang biasa disebut Voluntary Tax Complience.

Selaras dengan Voluntary Tax Compliance maka dunia perpajakan Indonesia mencanangkan sebuah reformasi perpajakan sebagai media terciptanya Voluntary Tax Complience. Reformasi perpajakan diyakini dapat meningkatkan jumlah wajib pajak serta terciptanya excellent service and administration antara Fiscus dan para wajib pajak. Realitanya, terjadi asimetris antara visi reformasi dengan fakta di lapangan. Menurut Direktur Jendral Pajak, Fuad Rahmani, hanya 10% wajib pajak yang memenuhi kewajibannya membayar pajak, sedangkan sisanya banyak yang melakukan tax avoidance dan tax evasion. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran para wajib pajak akan pentingnya keberadaan pajak dalam pembangunan Indonesia serta ketidaktahuan mereka mengenai tata cara membayar pajak yang benar.

Pemerintah telah melakukan berbagai macam usaha untuk mengatasi masalah tersebut.  Pada 2008, pemerintah memberlakukan Sunset Policy sebagai salah satu program peningkatan jumlah wajib pajak untuk meningkatkan tax ratio hingga 13% (http://www.thejakartapost.com/news/2010/05/04/we-need-a-sunset-policy-tax-office-staff.html). Selain itu, pemerintah menggunakan berbagai media masa dalam bentuk iklan untuk mensosialisasikan pajak, dengan harapan semakin banyak yang mengetahui tentang pentingnya pajak.

Jika ditelaah lebih lanjut, pengedukasian yang dilakukan Dirjen Pajak melalui iklan-iklan tersebut hanya memberikan informasi tentang kewajiban membayar pajak dan pentingnya mengawasi penggunaan uang yang sudah masuk. Pengeluaran anggaran yang besar untuk iklan di televisi dinilai tidak efektif dan tidak tepat sasaran oleh beberapa pihak (http://www.semuaseminar.com/2011/11/pengetahuan-perpajakan-indonesia/).

Hingga 2011 silam, dari 238 juta jumlah penduduk Indonesia, hanya 7 juta saja yang taat pajak. Jumlah angkatan kerja masyarakat Indonesia sebanyak 118 juta dari total jumlah penduduknya. Sebanyak 40 persen dari angkatan kerja tersebut berpenghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Jika dikalkulasikan, terdapat sebanyak 44 juta sampai 47 juta penduduk Indonesia yang seharusnya membayar pajak. (http://www.pajak.go.id/content/membangun-kesadaran-dan-kepedulian-sukarela-wajib-pajak)

Asimetris sosialisasi pajak dengan hasil yang ada menuntut DJP untuk melakukan pengedukasian pajak bukan hanya pada wajib pajak di era ini, tapi juga pada calon wajib pajak di era berikutnya sehingga perpajakan di Indonesia tetap sustainable dan dapat menopang 70% APBN Negara. Calon wajib pajak yang dimaksud dapat dilihat pada grafik berikut

 

Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2005 – 2025, BPS 2009

Usia 12-19 tahun adalah usia pelajar SMP dan SMA. Kepala KPP Bantaeng, H Syamsinar mengemukakan, sasaran sosialisasi yang melibatkan langsung pelajar diakui sebagai mediator terbaik dalam mensukseskan peningkatan kesadaran masyarakat akan kewajibannya membayar pajak, daripada menggunakan media eletronik khususnya iklan yang memakan biaya lebih mahal. (http://cakrawalaberita.com/daerah/sosialisasi-pajak-di-sekolah). Pernyataan tersebut sangatlah sesuai dengan pernyataan Bapak Fuad rahmani yang menyatakan bahwa masalah perpajakan dimasa yang akan datang terletak pada pengetahuan dan kesadaran generasi muda akan pajak.

Untuk memperbaiki sistem perpajakan di masa sekarang mungkin amat susah, namun untuk mengubahnya di masa yang akan datang dengan penerus yang berbekal peduli pajak, tentulah sangat mudah.

(http://haluankepri.com/news/natuna/31092-kp2kp-sosialisasi-pajak-kepada-pemuda.html)

 

1.2  Rumusan Masalah

Pengedukasian pajak pada masyarakat, khususnya pelajar sebenarnya telah dilakukan oleh beberapa daerah melalui KPP setempat dengan sosialisasi langsung pada pelajar. Sosialisasi tersebut sayangnya tidak mendapat sambutan positif dari pelajar. Kejadian seperti ini terjadi pada daerah Jepara, saat KPP Pratama kabupaten Jepara mendatangi sekolah-sekolah untuk mengadakan sosialisasi, pelajar justru mangkir saat mendapat panggilan untuk mengikuti kegiatan tersebut. (http://jeparakab.go.id/index.php/web/detberita/berita/82) . Hal ini menimbulkan keraguan pada pihak Dirjen Pajak yang bertujuan untuk meningkatkan Tax ratio Indonesia menjadi 25% setara Negara-negara maju lainnya.


[1] Rachmat Achyar, Loc. CitTaxBurden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s